Di Jambore Nasional, Penyuluh Antikorupsi Akui Sulitnya Tanamkan Nilai Integritas

By Abdi Satria


nusakini.com-Semarang- Jawa Tengah menjadi tuan rumah Ajang Jambore Nasional Penyuluh Antikorupsi seluruh Indonesia (20-22/5/2022). Kegiatan ini juga menjadi tempat bertukar pikiran para pegiat antikorupsi hingga berbagi pengalaman, mulai dari disepelekan hingga sulitnya menanamkan nilai integritas kepada masyarakat.

Seorang penyuluh antikorupsi asal DI Yogyakarta Ari Sutantriati mengatakan, sudah lima tahun melakoni aktivitas itu. Meski demikian, banyak resistensi yang ia dapatkan ketika ingin berbagi nilai-nilai kejujuran.

Ia mengaku, seringkali masyarakat tidak sadar pentingnya nilai integritas. Selain itu, terkadang masyarakat tak acuh dengan pendidikan antikorupsi mulai dari rumah tangga. Justru, menurutnya pendidikan kejujuran paling dasar dimulai dari keluarga

“Kadang kami tidak dipercaya hanya karena saya seorang ibu rumah tangga bukan pejabat. Ya saya akhirnya menyampaikan sesuai dengan hati menjunjung tinggi budaya setempat,” paparnya, seusai pembukaan Jambore Nasional Penyuluh Antikorupsi Seluruh Indonesia dan Ahli Pembangun Integritas (Paksi-API) di Plasa Kandri, Kecamatan Gunungpati Kota Semarang, Jumat (20/5/2022).

Ia menyebut, ketika pendidikan kejujuran diterapkan dari kecil, maka anak muda akan menjadi generasi berintegritas. Ari mengungkapkan pembangunan nilai tersebut tidaklah instan.

Menurutnya, penanaman nilai integritas dibangun mulai dari contoh orang tua. Sebab, keluarga sebagai komunitas terkecil dari negara membutuhkan panutan yang akan diterapkan pada semua lini kehidupan.

Dikatakan Ari, terkadang bibit koruptif muncul dari teladan yang tidak benar. Hal itulah yang memicu dirinya terus bersemangat mengajarkan nilai integritas, meski terkadang diabaikan.

“Misal nilai kejujuran. Contohnya bila ada tamu tidak dikehendaki orang tua menyuruh anak (berbohong) untuk sampaikan orang tua sedang pergi. Keteladanan orang tua memengaruhi, tidak bisa langsung terlihat hasilnya, nanti kalau sudah besar,” imbuh Ari.

Indah, penyuluh antikorupsi dari Jakarta menyebut hal serupa. Ia mengatakan, bibit koruptif justru berasal dari budaya yang tidak produktif. Semisal, tidak tepat waktu dan mengambil pintas.

“Ya ada juga yang (menggampangkan) ini mah gampang pakai orang dalam saja. Nah itu kami menyadarkannya dengan pelan-pelan,” tuturnya.

Indah membenarkan, perilaku antikorupsi harus diajarkan sejak dini. Karena itulah, ia tertarik untuk bergabung menjadi penyuluh antikorupsi. Indah sendiri ditugaskan memberi penyuluhan kepada siswa TK hingga SD.

“Biasanya saya ajarkan sembilan nilai integritas. Misal berani, jujur, adil, sederhana dan bertanggung jawab,” pungkasnya. (rls)